Ringkasan Tanbihul Ghafilin --> Bab 2: Maut dan Kengeriannya

posted under by $#@|)Z

Anas B. Malik berkata Rasulullah SAW bersabda:

“Siapa yang suka bertemu kepada Allah, maka Allah suka menerimanya dan siapa yang tidak suka bertemu dengan Allah, Allah juga tidak suka menerimanya”

Penjelasannya;

à Pada suatu ketika, Rasulullah menyatakan hadis di atas kepada sahabat - sahabat beginda. Sahabat baginda kemudian berkata: Ya Rasulullah, kita semua tidak suka mati.

Jawab Rasulullah SAW: “Bukan itu, tetapi seorang mukmin bila akan mati datang Malaikat yang membawa khabar gembira tentang apa yang dijanjikan Allah kepadanya, sehingga ia suka dan senang untuk bertemu kepada Allah, sebaliknya orang kafir jika akan mati datang malaikat yang mengancamnya dengan siksa Allah, akan dihadapinya sehingga ia tidak suka bertemu kepada Allah.”


Nabi Muhammad SAW pernah menceritakan:

“Terjadi serombongan Bani Isra’il keluar sehingga sampai di perkuburan, lalu mereka berkata: Andaikata kita sembahyang di sini kemudian berdo’a kepda Tuhan supaya keluar salah seorang yang telah mati di sini lalu menerangkan kepada kami bagaimana soal mati, maka sembahyanglah mereka kemudian berdoa, tiba-tiba ada orang telah menonjolkan kepalanya dari kuburan berupa hitam, lalu bertanya: Hai kaum, apakah maksudmu? Demi Allah saya telah mati sejak sembilan pulah tahun, maka hingga kini belum juga hilang rasa pedihnya mati, kerana itu berdoalah kamu kepada Allah untuk mengembalikan aku sebagaimana tadi, padahal orang itu di antara kedua matanya ada tanda bekas sujud.”


Abul-laits berkata:

“Siapa yang yakin akan mati maka seharusnya bersiap sedia menghadapinya dengan melakukan amal yang salih dan meninggalkan amal kejahatan, sebab ia tidak mengetahui bilakah datangnya mati itu kepadanya, sedang Nabi SAW telah menerangkan pada umatnya supaya mereka benar-benar bersiap-siap untuk menghadapinya dan supaya mereka sanggup sabar dan tabah menghadapi penderitaan dunia, sebab penderitaan dunia itu termasuk seksa dunia, sedang seksa dunia itu jauh lebih ringan berbanding seksa akhirat, sedang maut termasuk dari seksa akhirat.”


Hatim al-asham berkata:

“Empat macam yang tidak dapat menilai dan merasakannya kecuali empat: Nilai kepemudaan tidak diketahui kecuali oleh orang yang telah tua. Nilai kesihatan tidak diketahui benar² kecuali oleh yang sakit. Nilai keselamatan tidak dapat diketahui kecuali oleh orang yang terkena bala. Nilai hidup tidak dapat diketahui benar² kecuali oleh orang² yang telah mati.”


Sifat Maut

Abdullah bin Amr bin Al-Ash berkata:

“Ayahku sering berkata: Saya heran pada orang yang sihat akal dan lidahnya ketika dihinggapi maut mengapa tidak suka menerangkan sifat maut itu. Kemudian ia dalam sakaratulmaut itu sedang masih sedar akalnya, saya berkata kepadanya: Ayah, kau dahulu heran terhadaporang yang sihat akal dan lidahnya, mengapa tidak menceritakan tentang hal maut? Jawb Amr: Anakku, maut itu sangat ngeri dan dashyat, tidak dapat disifatkan, tetapi saya akan menerangkan sedikit kepadamu: Demi Allah, ia bagaikan bukit radhwa di atas bahuku, sedang ruhku seakan-akan keluar dari lubang jarum, sedang dalam tubuhku seolah-olah ada pohon duri (epek-epek), sedang langit seakan-akan telah rapat dengan bumi sedang saya ditengah-tengahnya. Hai putraku, sebenarnya aku telah mengalami tiga masa: Pertama, saya kafir dan berusaha benar untuk membunuh Nabi Muhamma SAW, maka alngkah celaka diriku sekiranya mati pada saat itu. Kedua, kemudian aku mendapat hidayat sehingga masuk Islam dan sangat cinta Nabi Muhammad SAW sehingga saya selalu diangkat sebagai pimpinan pasukan yang dikirimnya, maka alangkah bahagianya sekiranya saya mati ketika itu, nescaya saya akan dapat doa restu Rasulullah SAW. Kemudian ketiga, Kami sibuk dengan urusan dunia, kerana itu saya tidak mengetahui bagaimana keadaanku di sisi Allah. Abdullah berkata-kata: Maka saya belum bangun dari tempatnya sehingga ia mati di saat itu.”


Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Andaikan binatang-binatang itu mengetahui tentang mati sebagaimana yang kamu ketahui, nescaya kamu tidak dapat makan daging binatang yang gemuk selamanya.”

Anas r.a berkata bahawa Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Mati itu bagaikan kenderaan seorang mukmin.”

Ibn Mas’ud r.a pernah berkata bahawa Rasulullah SAW pernah ditanya:

“Siapakah mu’min yang utama? Jawab Nabi SAW: Yang terbaik budi dan akhlaknya. Dan mu’min manakah yang terkaya? Jawab baginda: Yang banyak ingat mati, dan baik persediaannya.”


“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa² yang ada di atas muka bumi itu sebagai perhiasan, utk Kami menguji siapakah di antara mereka itu yang amat baik amalannya.”

(al-Kahf: 7)

0 comments

Make A Comment
top